Gaun Putih
Aku kembali menangis dikamar, memegang buku diariku yang basah karena
cucuran air mata. Mengapa hal ini selalu terulang kembali.
Namaku Anti, sekolah disekolah ternama dijakarta. Aku benci tempat itu.
Setiap hari dan dimana pun. Sakit, rasanya aku ingin mati.
Pagi ini aku kembali bersekolah disana setelah sebulan lamanya kami
libur dari belajar. Mungkin pada kebanyakan orang senang bertemu kembali
dengan temannya, aku? tidak. Aku tidak mungkin memiliki teman disana.
Baru saja memasuki gerbang, aku sudah disambut mereka.
Batu,tanah,makanan,sampah, ya! mereka melempariku dengan itu. Awalnya
sangat sakit, sudah terbiasa kok. Mungkin, karena penampilanku yang
tidak cocok. hm, aku bersekolah ditempat yang sangat sangat high class.
aku dimasukkan disini oleh orang tua angkatku. Orang tua kandungku telah
meninggalkanku selamanya saat aku masih berumur 2 tahun. Aku sangat
merindukan mereka. "Cupu!" "Sok pintar lo!" "Anak Pungut!" aku selalu
bertemu dengan kata kata itu. Hari hariku memang seperti ini.
Aku selalu berdoa kepada tuhan, meminta ampun padanya. "Ya tuhan, aku
tahu ini cobaan darimu. aku akan mencoba selalu sabar menghadapinya.
Tabahkanlah hati hambamu ini ya Tuhan. dan ampunilah dosa mereka ya
Tuhan. Amin" .
Diaryku hampir tidak dapat ditemui air mata disetiap lembarannya.
Menuliskan apa yang aku alami, walau aku tahu umurku takkan sampai tua
nanti.
Hari itu batukku sangat parah sekali, darah tercecer ditanganku. Tidak
mungkin orang tua angkatku yg selama ini menyiksaku, akan memberikanku
uang untuk ke dokter. Untung saja orang tua kandungku memberikanku 2
buah cincin perkawinan mereka. Aku menggadaikannya, lalu ke rumah sakit
terdekat. Setelah di periksa, ternyata aku mengidap penyakit Leukimia.
Dokter menyarankanku untuk melakukan operasi jika tidak umurku tidak
akan lama lagi, tapi apadaya uangku tidak cukup untuk itu. Apakah ini
cara Tuhan untuk menjauhkanku dari mereka? Aku percaya Tuhan sayang aku.
Hari ini adalah hari terakhirku bersekolah disekolah ini. Semoga
penderitaanku akan berkurang setelah ini. Aku telah menyiapkan gaun
terindahku untuk acara ini. Gaun putih pemberian alm. Ibuku dengan surat
didalamnya. Aku tidak tahu mengapa ibuku memberikan gaun ini untukku.
Aku senang memakainya diacara malam ini. Aku telah mempersiapkan sebuah
persembahan untuk guru guruku. Tapi, aku tidak memiliki orang tua
seperti yang lainnya. Orang tua angkatku akan menghadiri pesta bersama
anaknya yang kebetulan juga seangkatan denganku.
Tidak lupa aku meminum obatku sebelum aku pergi dari rumah. Canggung
rasanya berdiri diantara teman temanku yang pergi bersama orang tuanya.
Tidak seperti biasanya, apakah mereka sudah berubah? baguslah.
Tiba saatnya aku membacakannya didepan mereka semua. Entah kenapa mereka
hanya diam menatapku saat aku membacakannya. Aku menangis membacakan
diary yang selama ini kutulis. Entah seperti sebuah sinetron atau hanya
dongeng. Aku hanya ingin mereka tahu. Selang beberapa lembar diaryku,
percikan darah keluar dari mulutku dan mengenai lembaran diary. Dengan
cepat rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuhku. Aku tidak berdaya, aku
tidak sanggup untuk berdiri lagi. Hembusan Nafasku yang semakin
berkurang. Aku merebahkan diri diatas panggung tersebut, memeluk diaryku
dengan alas gaun putih peninggalan mama, perlahan mata ini tertutup
seraya nafasku telah terhenti.







0 Response to "Gaun Putih"
Posting Komentar